Senin, 17 November 2014

Buruknya Pelayanan Paperclip Bellevue Cinere

Seperti biasanya sepulang kerja cari makan malam bersama pasangan saya dan kita memutuskan untuk pergi ke salah satu pusat perbelanjaan baru di Cinere, Jakarta Selatan bernama Bellevue Cinere. Singkat cerita selesai makan kami jalan-jalan sebentar dan melihat ada toko stationary PAPERCLIP.

Sampai didalam seperti biasa saya selalu tertarik dengan alat tulis khususnya ballpoint. Sampai di lorong alat tulis semua product terlihat sangat tersusun rapi dan warna warni membuat saya ingin mengambil beberapa foto karena saya memang suka mengabadikan segala sesuatu yang rapi dan berwarna. Akhirnya saya keluarkan HP dan mulai mencari-cari angel yang bagus untuk mengabadikan alat tulis yang berwarna ini.

Baru berhasil mengambil 1 foto tiba-tiba datang seorang laki-laki dengan wajah garang/jutek setengah teriak mengatakan..."heh..pak ! pak !! Ga boleh foto-doto disini !!" saya spontan langsung naik pitam karena merasa "ayolah..cuma alat tulis rapi warna warni emangnya mau curi apaan? Ide menyusun pulpen?" Kemudian sy juga dengan sedikit emosi menanyakan," kenapa tidak boleh ya" dan dibalas karena sudah peraturan perusahaan dengan nada yang kurang enak pula. Ya sudah saya rasa tidak perlu diperpanjang lagi, akhirnya saya tinggalkan toko tanpa belanja apa pun dan bersumpah tidak akan belanja di PAPERCLIP Bellevue Cinere lagi seumur hidup saya.

Saya tekankan sekali lagi yaa...saya bukan tidak senang hanya karena tidak boleh foto tapi yang buat saya emosi adalah nada biacara dan perlakuan si staff PAPERCLIP Bellevue Cinere yang sombong benar, ntah itu manager atau supervisor peduli setan..saya adalah pelanggan..kalau memang tidak boleh bisa dikatakan dengan baik dan sopan..tidak dengan nada membentak dan mempermalukan didepan umum. Lagian ada memfoto kerapihan pulpen...emangnya apa yang begitu rahasia disana? saya pun tidak mengerti.

Semoga bisa maju aja deh dengan staff pelayanan seperti itu...

Lahir disebuah kota kecil di Propinsi Sumatera Utara, Kabupaten Tapanuli Selatan bernama Padangsidempuan. Kota yang dikenal sebagai penghasil salak dan saat ini (2013) dikenal dengan wilayah yang memiliki kandungan emas dimana-mana.

Menjadi keturunan Tionghua di Tanah Batak tidak menjadikan saya sosok yang terasing dan terkucilkan walaupun tidak jarang mendapatkan perlakuan diskriminasi dari teman-teman pada saat sekolah dulu. Perlakuan teman-teman yang terkadang menyudutkan justru membuat saya ingin membuktikan bahwa saya bukan seseorang asing, saya adalah warga negara Indonesia.. sekali lagi INDONESIA.

Saat duduk dibangku SMU saya menjadi Ketua Pasukan Pengibar Bendera. Saat kuliah saya menjadi Komandan Satuan Resimen Mahasiswa Satuan Unika Atma Jaya, Jakarta. Sebuah pembuktian bagi diri saya dan teman-teman bahwa pengabdian tidak melihat warna kulit dan ras keturunan namun bicara pengorbanan dan pola olah pikir yang tidak apatis.

Selesai kuliah, dunia kerja menjadi pilihan pertama untuk menambah ilmu dan pengalaman. Berawal dari posisi Account Executive di perusahaan investasi keuangan (FOREX) pada tahun 2004, kemudian sebagai tenaga Sales rangka atap baja ringan pada tahun 2005, kemudian Sales mesin dan spare part produksi sepatu kemudian menjadi Sales di dunia retail furniture dan berkarir sampai level Manager Operational Retail, lalu berpindah haluan ke Sales dan Operasional Manager di perusahaan asing yang bergerak pada bidang digital marketing, lagi menjadi Sales dan Marketing Retail Furniture premium dan saat ini sebagai Installed Base Manager atau lebih dikenal dengan After Sales Manager di perusahaan alat kesehatan khusus Radioterapi di seluruh Indonesia.

Demikianlah secara singkat kisah hidupku, silahkan baca isi tulisan lainnya untuk pengalaman yang lebih terinci. Semoga ada manfaat bagi yang membacanya. Pesan saya, kalian adalah diri kalian sendiri, masing-masing kita memiliki kelebihan masing-masing oleh karena itu, temukan dan kembangkan.

Terima kasih