Rabu, 22 Mei 2024

Kerja Kerja Kerja

Kerja .. Kerja ... Kerja ....

Motto ini saya gunakan sebelum pak Jokowi menjabat Presiden RI - Salam Hormat pak, saya selalu kagum dengan Bapak karena hasil kerja, kerja dan kerja yang bapak lakukan untuk negara ini sangat terasa perubahan dan manfaatnya.

Oke.. kita mulai...

Motto ini lahir dalam diri saya sejak saya menganggur selama 3 bulan karena kebodohan yang saya lakukan di salah satu perusahaan tempat saya bekerja ditambah tingginya ego saat itu karena merasa "ga akan mati kalau gak kerja disini" atau "masih banyak perusahaan lain"  -- Jika kalian memiliki pemikiran yang sama dengan saya yang dulu, segeralah bertobat karena saya sudah menjalaninya, sudah pula merasakan akibatnya dan tidak ada positifnya sama sekali. Apa masih mau melanjutkan pemikiran seperti itu? Kalau masih keras kepala.. sebaiknya jangan teruskan membaca artikel ini karena kamu akan sakit hati karena bahasa saya yang sarkas dan apa adanya.

Kalau kamu masih meneruskan membaca, berarti kamu setuju bahwa hidup ini pada intinya adalah berkarya, berdagang dan bekerja untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk diri kita tapi lebih penting lagi untuk orang yang kita sayangi. Namun ada hal yang secara mendasar berbeda dari ketiga istilah itu yang harus kita telaah dan pahami lebih jauh agar tidak stress dan makan hati saat menjalaninya. Prinsip sebab-akibat sangat melekat pada pembahasan kali ini dan juga menunjukkan kalau tidak ada orang yang ahli dalam segala hal.

Berkarya - Menciptakan sesuatu.
Sesuatu yang bermanfaat untuk diri sendiri atau orang lain.
Sesuatu yang memiliki nilai jual dan dapat mendatangkan keuntungan materi
Biasanya hasil karya yang baik datang dari talenta, passion dan dilakukan atas keingingin sendiri, bukan karena tekanan/paksaan/tuntutan dari pihak lain (misalnya bos)
Berkarya membutuhkan modal, bisa coba-coba atau berpengalaman, juga butuh waktu

Berdagang - Menjual Karya.
Kemampuan berkomunikasi ditambah kegigihan mental pantang menyerah serta strategi yang dinamis dalam menjalankan hidup sebagai pedagang
Mencari karya yang lebih baik, menghitung biaya, kelayakan harga, pesaing, kebutuhan konsumen, permintaan konsumen, edukasi karya/produk dan masih sangat luas ilmu untuk berdagang
Harus memiliki modal (materi) dan pengalaman yang cukup untuk memulai

Bekerja - Penggerak Proses Kegiatan (Karya maupun Dagang)
Bisa dibilang tanpa modal besar (kalau pakaian yang sesuai dan kecerdasan tidak dihitung modal)
Merupakan proses belajar untuk bisa menjadi pencipta karya dan pedagang
Derajatmu tidak akan lebih tinggi dari pencipta karya dan pedagang, sadari ini dan sering-seringlah bercermin. Walaupun kamu seorang sales yang notabene tugasnya jualan, kamu tetap dalam golongan pekerja. Sekalipun kamu memiliki jabatan tinggi, jika resiko dan keuntungan terbesar usaha yang kamu kelola masih atas nama orang lain (bos/owner) maka kamu masih pekerja. (Titik)

Pada poin ini yang ingin saya sampaikan adalah jika kamu masih seorang pekerja, belajar dan teruslah bekerja sebaik mungkin sampai kamu bisa berkarya sendiri dan atau berdagang sendiri. Jangan pernah merasa bekerja itu beban hidup yang tidak bisa diambil pelajarannya, apalagi berpikiran bahwa kamu bekerja hanya untuk memperkaya orang lain karena kenyataan hidup ini memang pilihan ditangan kita sendiri mau menjadi apa.










Senin, 17 November 2014

Buruknya Pelayanan Paperclip Bellevue Cinere

Seperti biasanya sepulang kerja cari makan malam bersama pasangan saya dan kita memutuskan untuk pergi ke salah satu pusat perbelanjaan baru di Cinere, Jakarta Selatan bernama Bellevue Cinere. Singkat cerita selesai makan kami jalan-jalan sebentar dan melihat ada toko stationary PAPERCLIP.

Sampai didalam seperti biasa saya selalu tertarik dengan alat tulis khususnya ballpoint. Sampai di lorong alat tulis semua product terlihat sangat tersusun rapi dan warna warni membuat saya ingin mengambil beberapa foto karena saya memang suka mengabadikan segala sesuatu yang rapi dan berwarna. Akhirnya saya keluarkan HP dan mulai mencari-cari angel yang bagus untuk mengabadikan alat tulis yang berwarna ini.

Baru berhasil mengambil 1 foto tiba-tiba datang seorang laki-laki dengan wajah garang/jutek setengah teriak mengatakan..."heh..pak ! pak !! Ga boleh foto-doto disini !!" saya spontan langsung naik pitam karena merasa "ayolah..cuma alat tulis rapi warna warni emangnya mau curi apaan? Ide menyusun pulpen?" Kemudian sy juga dengan sedikit emosi menanyakan," kenapa tidak boleh ya" dan dibalas karena sudah peraturan perusahaan dengan nada yang kurang enak pula. Ya sudah saya rasa tidak perlu diperpanjang lagi, akhirnya saya tinggalkan toko tanpa belanja apa pun dan bersumpah tidak akan belanja di PAPERCLIP Bellevue Cinere lagi seumur hidup saya.

Saya tekankan sekali lagi yaa...saya bukan tidak senang hanya karena tidak boleh foto tapi yang buat saya emosi adalah nada biacara dan perlakuan si staff PAPERCLIP Bellevue Cinere yang sombong benar, ntah itu manager atau supervisor peduli setan..saya adalah pelanggan..kalau memang tidak boleh bisa dikatakan dengan baik dan sopan..tidak dengan nada membentak dan mempermalukan didepan umum. Lagian ada memfoto kerapihan pulpen...emangnya apa yang begitu rahasia disana? saya pun tidak mengerti.

Semoga bisa maju aja deh dengan staff pelayanan seperti itu...

Lahir disebuah kota kecil di Propinsi Sumatera Utara, Kabupaten Tapanuli Selatan bernama Padangsidempuan. Kota yang dikenal sebagai penghasil salak dan saat ini (2013) dikenal dengan wilayah yang memiliki kandungan emas dimana-mana.

Menjadi keturunan Tionghua di Tanah Batak tidak menjadikan saya sosok yang terasing dan terkucilkan walaupun tidak jarang mendapatkan perlakuan diskriminasi dari teman-teman pada saat sekolah dulu. Perlakuan teman-teman yang terkadang menyudutkan justru membuat saya ingin membuktikan bahwa saya bukan seseorang asing, saya adalah warga negara Indonesia.. sekali lagi INDONESIA.

Saat duduk dibangku SMU saya menjadi Ketua Pasukan Pengibar Bendera. Saat kuliah saya menjadi Komandan Satuan Resimen Mahasiswa Satuan Unika Atma Jaya, Jakarta. Sebuah pembuktian bagi diri saya dan teman-teman bahwa pengabdian tidak melihat warna kulit dan ras keturunan namun bicara pengorbanan dan pola olah pikir yang tidak apatis.

Selesai kuliah, dunia kerja menjadi pilihan pertama untuk menambah ilmu dan pengalaman. Berawal dari posisi Account Executive di perusahaan investasi keuangan (FOREX) pada tahun 2004, kemudian sebagai tenaga Sales rangka atap baja ringan pada tahun 2005, kemudian Sales mesin dan spare part produksi sepatu kemudian menjadi Sales di dunia retail furniture dan berkarir sampai level Manager Operational Retail, lalu berpindah haluan ke Sales dan Operasional Manager di perusahaan asing yang bergerak pada bidang digital marketing, lagi menjadi Sales dan Marketing Retail Furniture premium dan saat ini sebagai Installed Base Manager atau lebih dikenal dengan After Sales Manager di perusahaan alat kesehatan khusus Radioterapi di seluruh Indonesia.

Demikianlah secara singkat kisah hidupku, silahkan baca isi tulisan lainnya untuk pengalaman yang lebih terinci. Semoga ada manfaat bagi yang membacanya. Pesan saya, kalian adalah diri kalian sendiri, masing-masing kita memiliki kelebihan masing-masing oleh karena itu, temukan dan kembangkan.

Terima kasih